Paparan Stresor Tidak Terprediksi Secara Kronis Meningkatkan Perilaku Depresi dan Rasio Neutrofil Limfosit Tikus
DOI:
https://doi.org/10.69677/avicenna.v5i1.284Kata Kunci:
Nest building, perilaku depresi, rasio neutrofil, spontaneous groomingAbstrak
Latar Belakang: Stres kronis telah diakui sebagai faktor penting pada gangguan depresi, Dampaknya tidak hanya pada aspek perilaku tetapi juga pada fungsi fisiologis. Paparan stres yang berlangsung lama dapat mengganggu regulasi emosi dan motivasi, memicu perubahan pada sistem imun memebentuk kondisi inflamasi sistemik. Dalam konteks tersebut, penggunaan model hewan eksperimental menjadi pendekatan penting untuk memahami perilaku depresi serta keterkaitannya dengan respons biologis yang menyertainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek paparan stres kronis tidak terprediksi terhadap perilaku menyerupai depresi dan status inflamasi sistemik pada tikus. Metode: Penelitian ini menggunakan tikus jantan Sprague Dawley, yang dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok kontrol normal dan kelompok tikus terpapar stres kronis. Metode paparan stress merupakan metode stress kronis yang dimodifikasi dari beberapa penelitia sebelumnya. Kelompok stres dipaparkan empat jenis stresor secara acak satu kali setiap hari selama 28 hari untuk mencegah adaptasi terhadap stres. Perilaku menyerupai depresi dievaluasi melalui uji nest building dan uji spontaneous grooming, yang merefleksikan tingkat motivasi, perilaku perawatan diri, serta kondisi afektif hewan. Status inflamasi sistemik dinilai melalui pengukuran rasio neutrofil terhadap limfosit dari darah perifer. Analisis statistik dilakukan untuk membandingkan antara kelompok kontrol dan kelompok stres. Hasil: Paparan stres kronis tidak terprediksi menyebabkan gangguan perilaku yang nyata pada tikus. Tikus kelompok stres menunjukkan penurunan signifikan skor nest building, mengindikasikan berkurangnya motivasi dan perilaku berorientasi tujuan. Tikus stress menunjukkan peningkatan waktu latensi grooming disertai penurunan durasi grooming, mengindikasikan gangguan perilaku perawatan diri. Kelompok stres juga menunjukkan peningkatan rasio neutrofil terhadap limfosit, menunjukkan aktivasi respons inflamasi sistemik akibat stres berkepanjangan. Kesimpulan: Temuan ini menunjukkan bahwa paparan stres kronis tidak terprediksi mampu menginduksi perubahan perilaku menyerupai depresi yang disertai dengan peningkatan marker inflamasi perifer pada tikus. Hasil ini memperkuat validitas model stres kronis sebagai pendekatan eksperimental untuk merepresentasikan keterkaitan antara disfungsi perilaku dan disregulasi imun yang berasosiasi dengan kondisi depresi
Unduhan
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.







